Kesadaran yang Terlelap dan Oligarki yang Terjaga : Pesta Demokrasi 2024 sebagai Alarm Kebangkitan !

0
Andi Ayub Awu Abdullah

Dalam aliran waktu yang terus mengalir, pesta demi pesta demokrasi terus kita lalui, beberapa bersemangat sebagian lagi abai, money politik dan kecurangan seperti hal yang secara telanjang dan senonoh dipertontonkan, seperti sebuah ritual bak gayung bersambut, sicurang menggunakan kekuatan uang untuk mengepul suara dan beberapa apatis dan pragmatis pun menjualnya dengan senang hati, amoral yang membudaya dalam pesta demokrasi ini adalah awal perancu dan sumber kekacauan politik yang kelak memunculkan bayangan tirani yang merajalela. Suara-suara yang terjual murah itu menjadi legitimasi bagi sicurang agar melenggang ke singgasana kuasa, suara rakyat sebagai suara tuhan dalam demokrasi kini kehilangan esensialnya, meninggalkan sialnya saja, kebobrokan yang terus dibiarkan inilah yang kemudian akan melahirkan kekuasan legal yang cacat dalam prosesnya yang tanpa disadari, melahirkan tirani yang tumbuh seperti kanker kronis, yang tak tertakalahkan dalam atmosfer demokrasi kita.

Perlahan namun pasti, rezim dan oligarki menjadi kekuatan tirani yang menginjak hak-hak rakyat. Ironisnya, acap kali kita mengeluh bahkan protes tentang suburnya korupsi, tentang sulitnya mencari pekerjaan tersaingi ramainya nepotisme, sulitnya membangun usaha dalam ekosistem kebijakan yang rumit, kebutuhan pokok yang semakin sulit terbeli karena tumbuh suburnya kemiskinan yang seolah tersistematis oleh kebijakan-kebijakan yang tidak bijak, dan hak-hak yang tercuri legal atas nama UU, kita lupa bahwa kekacauan itu dibentuk oleh tangan-tangan kita sendiri akumulasi dari kesadaran yang terlelap, abai dalam ketidaktahuan, dan suara hasil jual beli yang melenggangkan kekuasaan si curang, yah Siklus ini terus berputar, membudaya dan terus diulang tiap pesta demokrasi itu tiba, tiap periode kita dipaksa menjadi penonton bertahtanya kekuasaan para oligarki yang semakin kokoh.

Pentingnya Suara dan kesadaran kolektif dalam pesta demokrasi menjadi sebuah panggilan mutlak untuk tidak lagi membiarkan diri terlena oleh keabaian politik, Dengan meningkatkan kesadaran politik, kita memiliki kekuatan untuk membentuk masa depan yang lebih adil. Kesadaran ini mengajarkan bahwa setiap suara, setiap tindakan politik, dan cara kita menilai dan memberikan mandat daulat memiliki dampak jangka panjang yang menciptakan dinamika kekuasaan.

Tanggal 14 Februari 2024, sebuah pesta demokrasi akan kembali menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran politik dan merintis perubahan. Pesta ini bukan hanya sekadar ritual memilih pemimpin, tetapi juga panggilan untuk melibatkan diri dalam merumuskan arah politik yang lebih baik

Sebagai platform kolektif, pesta demokrasi memungkinkan kita menggugah semangat kritis dan mengatasi tidur lelap kesadaran. Dengan bersatu dalam partisipasi aktif, kekuatan akar rumput sebagai suara Tuhan dalam politik kita dapat membentuk kebijakan yang mencerminkan aspirasi masyarakat dan meruntuhkan tembok tirani yang tumbuh.

Cukuplah Masalah yang dilahirkan dari tirani dan abuse power menjadi bayangan gelap yang menutupi kehidupan rakyat. Enyahkan bibit Korupsi kolusi dan nepotisme dengan berpartisipasi aktif dan cerdas dalam pesta demokrasi, menjadikan suara kita dibilik suara seperti peluru yang meluluh lantahkan rencana jahat dari sicurang membangun kembali tiraninya.

Sebagaimana dikatakan oleh Martin Luther King Jr., “Change does not roll in on the wheels of inevitability, but comes through continuous struggle” Perubahan tidak bergulir di atas roda keniscayaan, tetapi datang melalui perjuangan terus-menerus .” Demokrasi adalah alat untuk menghadapi perubahan ini, dan melalui perjuangan yang berkelanjutan, kita dapat membentuk masa depan yang lebih adil.

Ada kalimat Nelson Mandela yang juga relevan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan politik menjadi kunci utama untuk mengubah dunia, menghilangkan keabai-an, dan membangunkan kesadaran politik yang mendalam.

Jadi, mari rayakan pesta demokrasi sebagai momen untuk merayakan kekuatan bersama, membangun kesadaran politik, dan menggenggam kekuatan perubahan. Sebab, sebagaimana yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, “Be the change that you wish to see in the world.” Perubahan dimulai dari diri kita, dan pesta demokrasi adalah panggungnya.

Penulis : Andi Ayub Awu Abdullah. M.Kes

Alumni Pasca Sarjana Universitas Muslim Indonesia, Pegiat Sosial dan Politik

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here